Negeri Kupu-Kupu

22 01 2010

Sebuah renungan sang manusia : Asrarudin Hamid

(1)
Pun tiba waktunya
Langit gulita membuncah selaksa angkara durga
Muhammad bukan Isa,pun Isa bukan Musa
Manusia-manusia binasa

(2)
Berjejer rapi mata kumel manusia
Berderet meminta-minta
Erang sakit kecambah kehidupan
Telanjang ia terlahir suci menyerta
Sekelompok manusia berteriak di jalanan Soekarno-Hatta
Yang lain menghias rupa,gelap memeluk malam melelang mahkota

(3)
Pendar langit Jakarta menyeruak gelap gulita Papua
Wangi arak bercampur desah birahi ibukota,sang jejaka melantunkan puja di pojok tanah Naka
Melupa semesta
Pertiwi lelang rupa di hadap tuan Rusa

Ini negeri kupu-kupu
Mawar telah bermetamofosa buih amoniak memenuhi teja-teja
Ini negeri kupu-kupu
Sayap-sayap patah berganti sintesa palsu rupa

Ini negeri kupu-kupu
Ahmad Dahlan menangis di jalanan surga
Tan Malaka mati tanpa rimba
Kita lupa rumah jiwa

Kita lupa Soekarno
Kita lupa senyum Hatta, berapi pecah menggema takbir darah-darah manusia
Pun Sahrir entah siapa
Apa mereka para dewa

Ini negeri kupu-kupu
Sang raja lupa budak-budak nista
Pun para punggawa sekumpulan banci-banci nista
Melarat, sengsara adalah kidung-kidung sang hamba

(4)
Sedang nirvana telah terbakar ilusi mimpi sore ini
Neraka bias nyata
Menangis iba kanak-kanak Indonesia
Kusta menyerta muka-muka manusia

Tengok kami duhai para malaikat
Savana kerontang mati, mentari tak seterik dulu lagi
Salju merengek buih berlabuh
Mengubur manusia-manusia

Atau ini waktunya berdo’a
Tuhan turun ke bumi
Menyeka air mata manusia
Ahh, untuk apa berdo’a, Tuhan itu siapa?

NB:
Dedicated untuk yang masih memiliki nurani dan cinta “Republik” ini.,Spesial lelaki-ku *Arifuddin Hamid*.,kulihat mentari bersinar manja di langit rumah kita.,
Inspirated by “Selamatkan Indonesia”, a book by Amien Rais!!!

Panji Asmara 30, pukul 08.15, tanggal 21/01/2010 Masehi…,”‘menunggu listrik nyala (lagi)”





Kabupaten Bima Timur: Antara Cita dan Realita*

12 01 2010

Oleh : Arifuddin Hamid**

BIMA-NTB

Wacana Pemekaran Wilayah

Persoalan pemekaran wilayah seakan menjadi trend dalam memahami konsepsi otonomi daerah. Pasca reformasi, euforia kedaulatan daerah termanifestasi lewat pembentukan kabupaten/kota maupun provinsi baru. Dalam fakta empiris, rezim Orde Baru terutama, memang menerapkan apa yang diistilahkan dengan pendekatan sentralistis (segalanya terpusat dari Jakarta). Semua hasil dan potensi sumber daya alam daerah dikeruk dan diperuntukkan (kenyataannya) bagi segelintir elit di Jakarta.

Pola kebijakan sentralistis tersebut kemudian menimbulkan resistansi, terutama dari elit-elit lokal yang merasa hak dan kewenangannya ”terbonsaikan”. Sehingga, otonomi daerah sebagai pemikiran dan sistem dirasa lebih bermartabat dan mampu mengakomodir kepentingan lokal (baca: daerah). Akhir yang terjadi, setiap kelompok masyarakat mengkonsolidir diri, membentuk pemerintahan baru. Sama sekali terpisah, baik dari administrasi pemerintahan maupun fakta geografis. Suatu daerah kemudian pecah dan terbagi menjadi beberapa daerah yang lebih kecil.

Secara konsepsi, pemerintah kabupaten/kota memegang peranan yang jauh lebih strategis dan sekaligus mendasar tentang mekanisme manajemen pemerintahan. Hal ini terutama karena secara legal formil, desentralisasi, dalam artian perumusan dan penyelenggaraan kebijakan murni kreasi daerah, tanpa intervensi pusat (lihat UU.32/2004).

Dalam konteks seperti inilah, perdebatan menyangkut pemekaran wilayah Kabupaten Bima menemukan relevansinya. Wacana ini terus bergulir, direspon, dan ditindaklanjuti lewat berbagai aksi nyata menuju praksisme pemerintahan baru. Penulis, sedikit banyak terlibat dalam proses tersebut, dan pun diskursus ini bukanlah lagi sekadar wacana, namun semakin menggelinding menjadi nyata. Demikianlah adanya.

Analisis Dialektik

Pasca pemisahan antara Kabupaten dan Kota Bima pada tahun 2001 lalu, praktis wilayah kabupaten terbagi secara geografis, antara timur dan barat, dengan jarak tempuh yang cukup jauh. Apalagi dengan keluarnya PP.No.10/2008 yang menyatakan pemindahan ibukota kabupaten dari Kota Bima ke wilayah Kecamatan Woha, asumsi bahwa pelayanan administratif akan semakin sulit dan lambat, semakin menjadi momok yang harus terjadi. Dengan kata lain, terdapat legitimasi geografis berdampak administratif, terutama untuk masyarakat yang tinggal di kabupaten kawasan timur.

Perlunya terobosan kebijakan menyangkut permasalahan administrasi semakin esensial sifatnya. Entah melalui pembentukan kabupaten yang baru (Bima Timur), ataupun otonomi lebih luas kepada pemerintah kecamatan di daerah terjauh, hanyalah alternatif saja. Inti yang perlu ditegaskan adalah pelayanan kepada rakyat jangan sampai terabaikan. Dengan konstruksi berpikir demikian, analisis lebih lanjut mengenai dua alternatif di atas menjadi mutlak untuk dilakukan.

Suatu hukum sejarah, alternatif harus diambil, dengan segala konsekuensinya. Tentunya, alternatif yang diprediksi lebih baik. Pembentukan Bima Timur memang opsi yang jauh lebih menarik, cenderung berkeadilan, dan yang paling penting, tidak menimbulkan dampak masa depan, utamanya dengan Bima bagian barat. Sekiranya Bima Timur terbentuk, manajemen pemerintahan sepenuhnya menjadi kewenangan birokrasi baru. Kabupaten Bima (bagian barat) dapat menjalankan roda pemerintahannya sendiri. Dan Bima Timur pun berjalan dengan kebijaksanaannya sendiri, tanpa ada campur tangan diantara keduanya. Konflik dan pertentangan opini tak perlu terjadi. Beda kiranya jika sekadar pemberian otonomi-walaupun dalam skala luas-yang rawan konflik kepentingan. Takaran keadilan sungguhlah sulit diterka, terutama menyangkut pengelolaan hasil alam.

Dialektik selanjutnya adalah persoalan representasi politik. Walaupun penulis sebenarnya tak mau terjebak pada politisasi isu, namun representasi politik kerap menjadi persoalan yang sensitif, sensual dan begitu menggoda. Mau tidak mau, suka tidak suka, keadilan aspiratif tetap menjadi persoalan klasik yang harus dibahas.

Sejatinya, pemekaran wilayah bersifat desentralistis, termasuk dalam hal pembagian pos-pos kekuasaan strategis. Resistansi kepentingan menjadi keharusan yang pasti terjadi. Dalam konteks ini, etnosentrisme geografis akan tetap mewarnai proses perumusan kebijakan. Pembangunan infrastruktur dan orientasi kebijakan secara menyeluruh akan tetap mengacu pada keberasalan (wilayah) dari sang perumus kebijakan itu sendiri. Akibatnya, ketimpangan pembangunan menjadi suatu kemestian. Dan konflik pun tak terhindarkan. Sungguh resiko yang terlalu berat rasanya.

Lalu Apa?

Bersandar pada rumusan dan penjelasan sebelumnya, kecenderungan perlunya pembentukan kabupaten yang baru layaknya menjadi wacana bersama yang perlu dikonkretkan. Namun penulis merasa, persoalan tak berhenti sampai disitu. Sudah menjadi tugas seluruh masyarakat, terutama kaum (muda) intelektualnya menganalisis diskursus ini dengan standar objektif dan pemikiran yang realistis.

Menghindari wacana yang sekadar politis sifatnya dan miskin substansi, penulis melihat ada empat langkah strategis yang perlu dilakukan menyongsong pembentukan Kabupaten Bima Timur. Pertama, Perubahan pola pikir dan pola tindak masyarakat. Dalam wilayah hasil pemekaran, tentunya akan terjadi transformasi corak wilayah, dari yang sebelumnya bercorak pedesaan-tradisional menjadi urban-perkotaan. Konsekuensi logisnya adalah terjadi alih profesi masyarakat. Persawahan akan menjadi areal gedung-gedung pemerintahan dan para petani akan kehilangan profesi asalnya. Jangan sampai terjadi anakronisme dalam persoalan profesi ini. Karena jika tidak, kekagetan budaya (shock culture) akan menjadi konflik kultural tak berkesudahan. Tugas seluruh masyarakat untuk sama-sama menyiapkan mental dan fisik guna menyambut realisasi Bima Timur ini.

Kedua, Pembangunan infrastruktur dan beragam hal yang diperlukan oleh sebuah kabupaten harus terus digalakkan. Faktor kemampuan ekonomi, sosial politik, dan faktor penunjang lainnya menjadi prasyarat terbentuknya kabupaten yang baru (pasal 5 ayat 4 UU.No.32/2004). Persis disinilah, pembangunan secara terus menerus dalam setiap aspek dan lini kehidupan masyarakat menjadi harga mati yang tak mungkin ditawar. Terutama infrastruktur fisik, menjadi orientasi utama yang harus diambil.

Ketiga, Sosialisasi intens kepada masyarakat yang tercakup dalam (rencana) kabupaten Bima Timur. Menjadi suatu fakta empiris, wacana pemekaran wilayah selalu bersifat elitis yang tak jauh dari atmosfer politik praktis. Oleh karena demikian, adanya kesinambungan gerak antara elit masyarakat dengan massa kebanyakan menjadi suatu keniscayaan. Sungguh tidaklah elok jika realisasi Bima Timur hanya milik kaum elit dan dipaksakan dari atas.

Niscaya, gerakan itu harus bersifat top-down dan bottom-up sekaligus. Tujuannya adalah terdapat kesamaan irama gerak dan pemberian dukungan penuh kepada elit dalam memperjuangkan Bima Timur. Tiada cara lain, sosialisasi menjadi jalan terbaik dalam menemukan harmonisasi tersebut.

Keempat, gerakan massa menjadi langkah alternatif selanjutnya. Tekanan kepada pemerintah lewat aksi massa jalanan menjadi langkah lanjutan yang perlu diambil. Tentunya dengan cara yang damai, elegan dan minus anarkisme. Namun, penulis tetap berkeyakinan, aksi massa tetaplah alternatif yang bersifat aksidental, dengan frekuensi yang tak terlalu sering.

Yang juga perlu penulis katakan, ketiga langkah strategis berupa perubahan pola pikir dan pola tindak masyarakat, pembangunan infrastruktur, dan sosialisasi intens merupakan pendekatan yang paling logis untuk dilakukan, setidaknya untuk saat-saat sekarang ini. Hal ini karena terbentur kebijakan di tingkat nasional berupa moratorium legislasi pemekaran wilayah, dalam batas waktu yang tidak ditentukan. Rekomendasi Mendagri (pasal 5 ayat 3 UU.No.32/2004) sulit didapat. Bapak Gamawan Fauzi tegas menyatakan moratorium tersebut.

Bima Timur terbentuk. Pemerintahan baru tersusun, dan kebijakan berorientasi kerakyatan menjadi nyata adanya. Semua kiranya sepakat bahwa idealnya pemekaran wilayah adalah dari, demi dan untuk rakyat, tanpa kecuali. Derap langkah dan pelaksanaan pemikiran strategis yang taktis sifatnya harus dikondisikan secara optimal dan tepat sasaran.

Pel Sape

Pelabuhan Sape

Karaso-Budaya BIma

Karaso-Budaya BIma

Hasil laut Kita

Hasil laut Kita

* Tulisan adalah pendapat pribadi penulis.
** Penulis adalah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia; Direktur Bidang Politik dan Kebijakan Publik “Republic Institute (Center for Public Policy, Political Economy and Philosophy Studies)”.

Dibuat di kos ku yang teduh, ditengah siang yang mendung , ditemani secangkir kopi dan tentunya sebungkus Gudang Garam Filter.
UI,Depok, 10 Januari 2010.

NB: Tolong di-tag ke teman-teman Bima (Sape) lainnya. Tulisan ini sekadar dijadikan refleksi pemikiran.





Hakikat Cinta (manusia)

12 01 2010

Cinta adalah sekumpulan rasa yang membuat manusia menjadi pribadi “lain” untuk sejenak. Cinta adalah belaian manja surga yang sayap-sayapnya di kepakkan halus ke hati manusia. Insan di mabuk cinta, tak ubahnya adalah bunga padma rupa yang bermekar sehabis tersiram tetesan do’a langit. Adalah cinta sejatinya anugrah manusia.

Tak usah kita terlalu jauh untuk deskripsikan teori-teori cinta, tak usahlah kita hendak mencari bukti bahwa memang “rasa” ini adalah abstrak. Absurb tak berujud. Tetapi atas nama cinta sang Ibrahim mampu membangun “Bait” Allah dengan ikhlas..

Adalah cinta yang mampu menghadirkan bebatuan kasar di ujung bumi dan tanah kotor kelompong terhina buana menjadi sosok megah Taj Mahal. Cintalah yang mampu memupuk rasa sang Majnun hingga melepuh mati dalam kesunyian masa muda suram penuh ratap-ratap kesengsaraan manusia.,Jadi cinta…,sejatinya adalah rasa ingin memiliki, ketundukkan tanpa pamrih dan kepatuhan akan “hakikat cinta” itu sendiri.,

Tetapi kontra-posisi dari cinta sendiri terkadang kita jumpai dalam kehidupan ini. Ini mungkin klise,dan ini tak ubahnya adalah ratap kesengsaraan manusia yang gagal akan merengkuh cinta. Karena terkadang cinta tak berpihak pada manusia. Seolah kita menyalahkan cinta atas semuanya..,Pikir kita tak ubah kumbang nista yang buruk rupa tak berharga lagi.,
Lagu ini kiranya memberi satu arti akan makna cinta!!!Ketika gagal dalam hal ini. Kita harus tetap bangkit..mencari “cinta” yang hidup!!!

Wati Perduliku*

Kasamada si imbi

Na leli ndai na adeku

Adeku na leli

Bune so’o lili

Badula mu nahu tiperduli

Ba lao mu nahu tiparalu

Indo ru’u ku manggali

Di ipi kai panggeli

Ka ngupa wali mpa

Dou-dou makalai

Maloa na eda

Ncoki adeku


Terjemahan (bebas) :

Jika aku mengingat janji kita//When  I remember our promises

Hancur lebur hatiku// How broken my heart

Hatiku yang retak remuk// A  bloddy heart

Seperti lelehan lilin//Like a drown of a candle

Engkau kembali ke orang tuamu tak ku perdulikan// Even you’ve back to our home

Engkau pergipun aku tak perlu dirimu// I don’t care even you’ve go away

Pikirmu begitu sulit diriku mencari penggantimu // I am I very hard for gettin’ a new one

Hingga aku gila mengejar cintamu// That why it’s really madly by your love

Aku akan mencari lagi// I’l looking a new one

Manusia-manusia lainnya// another people

Yang bisa memahami // Whom really understand me

Betapa sakit hatiku karena dirimu// This broken heart that caused by you

Review Lagu:

Lagu bima ini merupakan luapan hati (perasaan-red) seseorang yang mengalami patah hati. Lagu ini merupakan salah satu lagu dari album Bima Bersinar yang cukup popular di ranah masyarakat Bima di era 90-an. Intisari dari lagu ini adalah hal ihwal percintaan merupakan fitrah manusia. Cinta di pahami sebagai anugrah Yang Maha Esa yang di jewantahkan dalam ikatan suci pernikahan yang “Legal”. Patah hati sesuai  ”pesan” yang ingin di sampaikan oleh lagu ini adalah hal yang lumrah (biasa) terjadi.

Salah satu kelebihan utama lagu ini adalah bahwa “kegagalan cinta” tidak di maknai sebagai suatu hal yang menyebabkan kita harus frustasi dan “bunuh diri” (kan banyak kasus-nya gank,hoho..jangan ditiru) dan cinta disini bukan lah cinta sepasang “remaja” yang istilah keren-nya gonta ganti pacar (yah..ini kan istilah anak muda zaman karang sob..eitzz..ngerasa tua neh aku).

Lagu ini memiliki “tema” yang umum dan popular di industri musik, baik skala Nasional (dalam negeri) maupun Internasional. Mengapa penulis berkata demikian. Coba kita bandingkan dengan lagu “Somebody’s Me” atau lagu lainnya versi Spain (Spanyol) yang berjudul “Donde Estan Corazon” milik Enrique Iglesias (NB:hehee..aslinya ini lagu favorit gue gank “buka kartu” neh),Un-break my heart miliknya  Toni Braxton atau lagu milik Nidji “sang Mantan” (yang sering nongkro-in radio pasti tahu deh ini lagu, secara saban hari di putar berulang-ulang kali, ato para MTV-Growth “generasi MTV”, hafal mati deh..hohoho,)

Back ke lagu “Wati Perduli” tadi, pesan penulis ketika kita dihadapkan pada kondisi yang sama, maka kita harus memaknai kegagalan cinta sebagai langkah “pendewasaan” dan itu adalah salah satu ketentuan Yang Esa. Jodoh ditangan Tuhan,bukan??

Bagaimana dengan anda??Pernah merasai “Patah Hati” bukan?? Ayook…Lagu ini sebagai salah satu alternative “music” yang perlu anda dengarkan!!

NB:

Judul “Tiperduli”, di ambil dari album “Bima Bersinar”. Ini bukan komersialisasi, hanya langkah kecil saya pribadi untuk mengenalkan “Bima” kepada semua!! Hambuuu…….,





Maaf

5 01 2010

Hilang,berlari aku menjauh
Sang busur keabadian
Ruang jiwa manusiaku

Elegi adalah nyanyian duka
Sayatan hati luka
Menganga terbuncah aku mati

Berdosa sang aku
Sang hitam durhaka
Tuhan kutuk manusia,aku sang jalang

Kini derai tangisku tak bermakna
Suaraku tercekat lantunkan serenade kematian
Aku ilalang

Kupalingkan muka,palingkan muka
Sedang cerminku retak
Sang janin, aku bukan manusia

Wahai belahan kaki keabadian
Namamu kusemai di hati
Sang mawar rapuh,jangan kau teteskan tangismu

Wahai sang cinta
Maafkan aku
Diam adalah tangisan jiwaku,aku belahan jiwamu

Aku adalah lelakimu
Aku adalah darahmu,jiwamu,cintamu
Sayap-sayapku patah

Aku adalah wajahmu
Aku adalah alismu,dua bola matamu
Aku kepingan luka

Sudikah kau menerimaku lagi dan peluk jiwaku
Aku ingin menangis
Mati dipelukmu

SEDIH KU

SEDIH KU

P.Asmara 30.,
04-01-2010
PUkul 08.01 (Maafkan daku,……………)





Tragedi Cinta…,

20 12 2009

Lara hati

Beranjak semua dewasa
Cemara hati mulai menguning lapuk kini,hampir mati padam
Daunnya berguguran ke sisi bumi..,ia meranggas

Tak pernah ku harap ini terjadi lagi,potongan fragmen cerita silam
Peperangan dan silang sengketa
Semua luka menganga jiwa

Aku
Kamu
Kita semua terluka semua penuh sengsara

Apa kita lupa ikrah jiwa
Bersimpuh kita hadap-hadap semua penuh makna
Kita menyatu dalam cinta

Bercerita tentang bakung lapuk, lilin redup,mawar hitam
Tentang luka hati,tentang elegi
Semua tentang cinta

Lantas kenapa
Badai biadab memang telah koyakkan perahu hati
Basah tersiram gerincik hujan dan langit basahi jiwa-jiwa,kita terkubur bah ego manusia

Apa kita harus berlari,bersembunyi tutup muka
Apa kita harus congkak,angkuh di ujung nista
Kita palingkan semua terhapus memori tentang ku,tentang dia,tentang kita

Maaf….ini bukan puisi hati
Pun aku lelah harus begini
Tak ku biasa memendam rasa dan aku tak ingin ini,ku haramkan aku sakiti hati

Apa kau lupa tentang aku
Bukankah kau tahu aku bukan manusia
Aku belulang retak dan sayap-sayapku patah,sang debu pekat kelam semua gelap,aku buta

Maka dengar aku
Mungkin ini memang suratan sang takdir
Hendak teruji ihwal cinta, pun cinta tak terdefinisi, tidak sama sekali

Dan lara hatiku kini
Aku menangis, air mata ragaku, jiwaku
Ego ini telah telanjangi kita,apa kita sekumpulan orang bodoh

Kekasih hati temali ini hendak kau apa
Apa kau suruh aku gantung diri kini
Kita berselisih lagi di surga





Ayah…maafkan daku.,

5 12 2009

Sejatinya kita terlahir dari sepasang manusia yang purna rupa.Memiliki cinta,kasih sayang tanpa henti mengalir bak hujan yang membasahi bumi lantas hidupi sekelompok tanaman cinta. Kasih sayang ayah ibu kita takkan pernah usai hingga ajal meregang nyawa.

Lantas kenapa terkadang kita ego dan sering tak patuh,membangkang akan perintah mereka..Mengganggap mereka segolongan manusia “tua renta” dan dari masa lalu tak perlu urusi hidup kita lagi.Dan terkadang kita ingin suatu pembuktian akan nilai diri sebagai “manusia” yang di-ikrarkan dan di akui kedewasaan kita…,
Sejatinya kita tidak salah bahwa hidup adalah milik “pribadi” kita. Tetapi alangkah tidak elegannya jika kita membuat mereka “menangis” dan “tak bahagia”.

Apa kita lupa kita hanya sekeping nutfah yang berkembang dari sulbi ayah kita???Apa kita lupa 9 bulan kita mengapung dalam diri ibu-ibu kita..,kita telah lupa bahwa ridho Tuhan ada di telapak ridho mereka jua??
Kita telah terlahir ke bumi dan kita berujar keras : AKU MANUSIA???

Bukankah suatu ketika nanti kita akan menjadi seperti mereka??
Adakah kita memahami mereka layaknya mereka memahami kita semenjak kita hanya segumpal daging merah menyala???
Dan mereka suatu kala pun akan pergi,TAK AKAN PERNAH KEMBALI lagi???
Maka…Tuhan-ku,ampuni kami jika dosa dan khilaf telah buat “orang tua” kami malu telah lahirkan manusia2 pendosa.

Dan puisi ini ku persembahkan untuk ayahku!!!

di AKMIL MAGELANG

di AKMIL MAGELANG

Binar cahaya mata teduh terpatri
Tersenyum kearah pojokan langit berkata-kata padaNya
Lelaki terwarisi tetesan darah peluh bercucur tetesan cinta
Terpendar bias mentari

Mimpi-mimpi salju basahi meranggas bumi jiwa-jiwa
Hendak tertoreh prasasti manusia
Lelaki cinta untai bait-bait surga
Hingga hati menjamah cinta

Ayahku
Sekeping doa dari pojok sajadah kusam-mu
Erangan jiwa akan lalai kami pada sang Khalik
Dosa-dosa durhaka sang makhluk

Tuhan…,
Kutitip selaksa cinta segengam untai hati
Dan ia sempat berujar bangga ke sudut bola mata bening miliknya
Engkau sang hamid kecil-ku,.

Happy B’day to My Love Dad..11 DESEMBER!!!
I Love U dad,.

NB:Foto,Alm Kakek, Aku dan Ayah. Magelang 1996





Fuckin-awesome beach in Sape

1 12 2009

Here some photos that located in Torowamba beach Sape-Bima, West Nusa Tenggara

Sumpah.pantai ini keren bangat!!!Tapi…aje gila gak dikelola dengan baik..,

tanya kenapa???

my model....hhehe

my model....hhehe

peace and peacefull

and the real one is…..foto2 “pantai” ini sendiri

keren bangat!!!

what a loveable beach

what a loveable beach

pasir merah...





Waktu gw GILA..,

1 12 2009

Gila..yeppy. Kata2 ini adalah ungkapan/ istilah untuk menamakan mereka yang mengalami gangguan jiwa..
Tapi kalo orang waras (kali ini baca:gilaaaaaa) bertingkah aneh maka otomatis ungkapan ini “refers” kepada mereka.
But well yeah…gw lagi gila..GILA FOTO
hehe

think about something make me crazy!!

think about something make me crazy!!

sang Gila….,
Gila ini telah menusuk aku
memar dadaku tak terganti
dan luka perih kini tak akan pernah sembuh lagi

semua hanya menganga sang hati
entahlah….aku terdiam lagi
diam akan semua
bahkan enggan ku lirik sekumpulan mawar-mawar merekah jingga

aku telah mati

= chaoo=





Sang Banci

23 11 2009

Tak mampu urai kata
Jemari mati rasa
Otak tak ubah gumpalan daging nista
Semua tak miliki harga

Lelaki bukan lelaki
Mulutnya penuh racun sianida
Hendak di ciumi neraka
Temani sang belulang penebar dusta

Berperang ia merebut tahta
Mulutnya berbisa bak sanca
Sedang urat lelakinya sirna
Sang kelamin terobral di jalanan hina

Berkoar di pojok-pojok sampah
Retorika hendak mencari iba
Sang jawara mengucap khotbah
Sekumpulan angelica berlalu terbang tersenyum hiba

Sang Banci
Mengalir untai maaf dari sendi-sendi jiwa bersulam amarah
Langit buncahkan salju kiranya azab sang kafir
Siapa sang kafir

Anomali manusia
Mata rupa elang jalang
Tak bisakah tersumbat lacur mulut-mulutmu
Atau kau penjilat

Iblis berujud
Dan belulang bukan manusia
Bukan apa-apa
Hingga ku yakini tak layak tersanding melati padma rupa

Ahh….
Kenapa begini
Mengalir nanah pojok-pojok hati
Temali mayang terurai putus penuh hina

Tanyaku pada gemintang kelam
Siapa pendosa
Merpati bermetamorfosa gagak-gagak nista
Cinta berujud murka





Sayang………

15 10 2009

(Sisi lain Asrarudin Hamid)

Sayang…
Adakah kau terbangun pagi buta
Kala mentari mencium manja sinar purnama
Dan sekelompok kupu-kupu bercinta

Sayang…
Adakah kau terjaga di malam sunyi
Saat nyanyian anjing terdengar merdu
Bak petikan kecapi perawan Hindustan

Sayang…
Pernahkah kau memikirkanku
Dan hendak mengingat aroma wangi ragaku
Atau senyum simpul kedua sudut bibirku

Bibir yang kau usap manja dengan cinta
Lantas kau cium mesra
Penuh gairah
Pagut-pagut,menindih raga

Sayang…
Aku pernah berjanji di bawah purnama
Akan membawamu ke sudut surga
Hendak ku kenalkan pada Tuhan

Sayang…
Maafkan aku yang telah sakiti ragamu
Buat engkau tak berarti lagi sebagai wanita
Sebagai manusia

Sayang…
Dengan segala hormat
Hendak ku bongkokkan dada kekarku
Bersujud di jemari kakimu

Sayang…
Salahmu cuma satu
Khilafmu adalah kenapa engkau begitu mudah mencintaiku
Lantas kau percaya saja ucap bibirku

Sayang…
Aku terlahir sebagai lelaki
Nafsuku tak mampu kupenjara
Sementara di luar sana wanita-wanita menggoda

Sayang…
Aku cuma menitip sesuatu padamu
Dan hendak ku kembalikan kunci hatimu
Karena aku tak layak membukanya,lantas menengok isinya

Sayang…
Maafkan aku yang tak menghargai cintamu
Karena aku memang pernah tak dihargai oleh cinta
Memang tak berharga





Pelacur Bersorban

14 10 2009

(Sebuah coretan tak berpola: Asrarudin Hamid)

Kini aku ingin merangkai beberapa kata
Inginku aku adalah ahli sastra,ahli bahasa
Tapi aku hanya lelaki belia
Bukan siapa,bukan apa-apa,hanya sekumpulan tulang berotak,bersukma

Maka,dengarkan petuah tak berpola dariku kini….,

Wanita…
Tidakkah kau menyadari kau adalah wanita
Sadarkah kau bahwa kau membawa surga di kakimu
Surga manusia-manusia

Sang wanita
Ketika terlahir kedunia bernama hawa
Bermata indah,lentik memikat
Berjemari lembut tak ubah syal nenek berbahan sutra Samarkand

Sang wanita
Mulai beranjak remaja
Mulai mengenal dunia
Mulai mencium semerbak wangi dan semilir angin bumi

Sedang ayah ibu mereka mulai berembuk manja
Panggil-panggil menghadap
Menyodorkan selembar kain bermotif Turki
Berwarna merah,merah dara,penuh karakter

Sang ibu berkata manja
Kenakan ini,lindungi ragamu dari Iblis
Pakailah ini,jaga hatimu dari murka Ilahi
Sedang sang ayah cuma menitip kata singkat,mungkin kami tak cukup waktu melindungimu

Sang wanita
Ia mulai bercermin diri
Mencak-mencak berdiri mematung depan kaca klasik
Keluaran tahun dua ribu tiga masehi,dibeli ayah di toko milik Tianghoa

Sang wanita
Rupanya ada gejolak baru di dadanya
Nian Iblis telah bermetamorfosa menjadi lipstik-lipstik merah muda
Dan telah berbentuk rok mini berenda tipis berlabel rumah mode Italia

Genderang perang mulai bertabuh kencang
Kebatilan bergumul dengan sekeping Iman yang agak goyang selepas diterpa gempa keraguan
Keraguan batinnya untuk apa lentik bulu matanya,kemilau rambut dan indah lesung pipinya
Jikalau pikirnya harus tertunduk terpaksa berselimut kain-kain hitam,kusam tak modern

Sedang sekelompok manusia adalah rekanan bisnis sang Iblis
Berkamuflase dengan jargon-jargon yang dalam otak mereka sebagai isu-isu manusia abad milenium
Emansipasi wanita kata mereka
Kebebasan tanpa syarat pikirnya

Sang wanita

Kini Imannya telah tergadai
Ia bersorban panjang melilit raga dari pukul enam pagi hingga petang
Selepas itu mulai lenggak-lenggok kaki panjang mereka
Berjalan kiri-kiri,tertawa-tawa penuh gairah,nafsu manusia

Sang wanita
Sorbannya ia lilit ke atas lewati jenjang muka
Hingga mahkotanya tercerabut mayang,angin menyibak kehormatan wanita
Penuh hawa Iblis meraja,tepis-tepis kanan-kanan tak tentu arah

Sang wanita
Berumur dua puluh tahunan turunan saudagar kaya
Blasteran suku-suku penjaga tanah ulayat
Tanah penuh tumpah ruah kemiri dan pepohonan dupa,kayu manis mewangi semesta

Sang wanita
Beranjak dewasa sebrangi lautan samudra
Berharap otaknya terasah keras kuat
Tajam-tajam bak belati jejaka tanah Sape selepas berjalan keliling kampung menjaga manusia jikalau ada Iblis hendak memangsa

Sang Iblis jalang
Binal penuh nista nan dosa
Kubangan dosa hendak ia ajak manusia menuju syurga bumi
Syurga penuh kontradiksi dan aroma jahannam anyir-anyir darah pekat karena ia tak terizin hendak di tengok sebelum kitab tercium manja sekumpulan manusia beda rupa

Amboi,
Wahai wanita-wanita
Syurgamu adalah syurga milik pemilikmu
Milik sang kumbang yang kau ridhoi hendak disirami dengan air-air manusia

Duhai wanita,
Ragamu adalah raga kemulian
Jiwamu adalah jiwa kesucian
Dan kehormatanmu adalah pintu-pintu syurga sumber manusia pembela izzahmu,ragamu,dan jiwamu

Wahai wanita
Para wanitaku
Wanita-wanita kaum Muhammad
Wanita-wanita manusia

Tak pernahkah kau sadar akan dirimu
Tak tahukah kau akan dirimu
Dirimu sendiri
Yang berdiri mematung bercermin di istana-istanamu pagi-pagi buta selepas subuh menjelang fajar

Dirimu,ragamu.jiwamu dan kehormatanmu
Dijaga oleh manusia-manusia
Oleh kami,kami
Oleh ayahmu,anakmu,saudara lelakimu dan suamimu jika kau bersuami lelaki penuh takwa

Lantas karena apakah kau gunting kain panjangmu
Hendak kau perlihatkan mulus jemarimu
Ataukah jenjang halus lehermu
Dan bagus nian lekukan tubuhmu

Ataukah hendak kau goda kumbang-kumbang
Sang kumbang binal penuh mesum di otak mereka
Karena tiap sepermili detik simpul lelaki mereka berkreasi,penuh gairah
Bergejolak keras keras,letup-letup penuh amarah

Bukankah fitrahnya sang lelaki
Ketika matanya melihat sesosok daging-daging berjalan dihadap mereka
Daging penuh aroma-aroma,mewangi penuh syahwat
Daging-daging manusia

Dan hendak kau salahkan siapa
Hendak kau alamatkan pada siapa
Jika ternyata karena kesalahanmu itu kau pun ternoda
Tergadai cinta,tercerabut kesucian karena lelaki lacur keparat

Wanita
Kemilau raga
Sinaran cinta,lembut-lembut manja khas wanita
Penuh hangat belaian bersumber hati bergenre kesucian
Bak lantunan ayat Tuhan petikan gulungan-gulungan bab Maryam lewat pukul 12 malam

Wanita pendaran mutiara
Permata Afrika berkilau,silau mata sang Adam
Sekumpulan melati padma rupa
Mewangi bumi,mewangi jiwa

Layakkah ia tak terharga,terlindung
Walau tetesan darah tertumpah
Keberkahan bumi,jiwa manusia
Jiwa wanita

NB:…………………………..:(





Galau Hati Sang Daeng!!!

10 10 2009
Galau Hatiku..Jiwaku!!!

Galau Hatiku..Jiwaku!!!

Senyap lantunan sepiku meruak penuhi langit kamarku
Tempat raga ringkihku sejenak bertengger
Lindungi sekerat daging kelelakianku
Daging cintaku

Tak ubah kemilau hidupku
Buram,kabur,absurb,abstrak
Sang pelangi berkabut
Kaburkan raga,sukma-sukma

Lantunan sepiku sebagai lelaki
Erangan sakitku sebagai Adam
Puisi jiwaku rapuh tak tertahankan
Kontradiksi,patah hati sekaligus oportunis penjahat wanita

Pendaran cahaya lilin penuhi raga
Membakar jiwa malangku penuh nista
Sedang lelehannya kini penuhi tanganku,kakiku,wajahku,dadaku
Selimuti ragaku bak Fir’aun tanah Piramida

Ahh…kesahku tak ubah lolongan serigala Afrika
Mengaung-ngaung penuh gejolak
Tak ubah kaya-kata tak bertuah
Milik kakek reot bau tanah

Ahh…kalau boleh ku pinta
Kirimkan saja aku bisa boa Australia
Ataukah Guiltone saja
Pedang keramat inkuisisi muslim-muslim malang tanah Kordoba

Tuhan??
Kenapa aku merasa bak pesakitan rumah bui
Tak ubah pelacur jalang hendak insaf
Hendak taubat,taubatan nasuha

Tuhan.,
Kalau boleh aku meminta
Kirim aku temaliMu
Aku hendak gantung diri menuju surga

Pukul 10.59.Bertanggal,5 Oktober 2009.DIKLATLUH BDH.Rumah para “White Schol**”,





7 Oktoberku..,

6 10 2009

Image064

7 Oktober 1986
Aku terlahir ke bumi
Sepasang bola mata binal mungilku melihat buana fana
Sedang erangan ragaku keras-keras ke penjuru negeri,negeri para manusia
Sekumpulan makhluk-makhluk bumi

7 Oktober 1987
Aku makin dewasa saja
Bulaian manja sang bunda kabarkan padaku bahwa bumi itu damai
Penuh malaikat-malaikat
Sesak oleh kawanan bidadari-bidadari

7 Oktober 1988 hingga aku balita
Adalah seonggok daging yang mulai berjalan
Merangkak-rangkak ke sentaro bumi
Panggil-panggil papa
Panggil-panggil mama

7 Oktober 1991 hingga aku Sekolah Dasar
Masa-masa penuh damai
Pikirku bumi adalah sekumpulan pelangi dan teja langit sore berpendar kemilau mentari
Pikirku bumi adalah jalanan dan gunung-gunung serta selat Sape yang ku jamah,bercinta ragaku dengan sang alam
Menzinahi sang waktu,telusuri jalanan-jalanan,sekumpulan bocah bertelanjang dada

7 Oktober 1997
Aku adalah manusia-manusia
Sang muslim gagah perkasa,hendak jihad ke Palestina
Lantunkan ayat-ayat surga
Sedang otakku ingin menjadi perawat saja selepas kulihat Ayah dari ibuku sekarat karena asma

7 Oktober 1998
Pikirku aku mulai mengenal hawa
Seolah aku adalah kumbang tanggung yang hendak menandai mawar Eropa
Dan aku adalah sesosok jemari-jemari penuh rasa
Rasa hendak menjadi raja dalam semua,raja di raja

7 Oktober 1999
Rasa itu makin membuncah,hendak ledak-ledak
Rasaku ingin menjadi Raja,hendak tawan sang hawa
Hendak ku jadikan saja ia permaisuri cinta
Istana penuh cinta,kemilau-kemilau mutiara

7 Oktober 2000
Aku mulai ragui hatiku
Pikirku aku tak layak untuk sang hawa
Berkode tanggal lima bulan lima
Berambut mayang,sipit matanya,pipi kenyalnya,sedang hidung Turkinya

7 Oktober 2001
Hendak kubuang muka
Hendak ku berlari dari bumi
Hendak ku buang muka
Hendak ku pergi saja dari depan wajahnya

7 Oktober 2002
Pikirku cinta adalah bulaian remaja tanpa ilmu
Pikirku cinta akan menohokku,tusuk-tusuk hatiku
Remukkan jiwaku,bunuh sukmaku
Hingga aku bak orang gila,kumel,tak tahu sisir kumis wajahku

7 Oktober 2003
Aku ikrarkan cinta bukan lagi milikku
Tapi sebagian hatiku berontak-berontak penuh ego
Bak jejaka malam pengantin
Hendak di tidirunya sang perawan selepas ijab dibawah kitab

7 Oktober 2003
Mungkin hatiku salah jatuh cinta,salah menilai cinta
Sadarku cinta adalah milik dua manusia penuh gairah,penuh tulus
Tapi,apakah aku juga salah,sedang ia permainkan diriku
Selepas ia jadikan aku bak pangeran tanah Perjanjian

7 Oktober 2004
Hingga aku jatuh tersungkur kepelukan hawa
Bibirku megap-megap mencium wangi wanita
Wanita yang kuingat Ia berambut lurus,berhidung mancung,kulit kuning kemayu jemarinya
Yang kuingat ternyata begitu rasanya memeluk hawa,hambar-hambar bak roti tawar

7 Oktober 2005
Tanpa wanita
Tanpa wanita
Otakku,jiwaku,ragaku telah ku gadaikan untuk selembar jubah putih keramat
Hatiku telah kuikat hendak khatamkan tulisan-tulisan manusia bersejawat

7 Oktober 2006
Aku mulai mengenal arti sebuah persahabatan
Mengenal arti lembaran lima putuh ribuan milik manusia sisi tangga,yang hatinya begitu tulus pikirku
Sedang otakku mulai direcoki istilah-istilah tak kukenali
Hendak disatukan saja negeri-negeri seperti zaman lampau,kala Sultan-sultan berharem

7 Oktober 2007
Aku terpuruk sangat, tersungkur, tersingkir
Sekelompok manusia munafik mulai tebar teror
Fitnah-fitnah tanpa ampun
Fitnahnya diriku bak anjing koreng jalanan hitam

Hingga semua menyingkir
Hendak ia gantungkan saja ragaku ke temali pengadilan
Hendak ia inkuisisi diriku akan semua
Fitnah tak bertepi dari seorang manusia,yang kuingat mencak-mencak ia habiskan jatah makan malamku, manusia sisi tangga

Hingga saudara seimanku menyingkir pula
Ia yang kucerita sang hawa berkode tanggal lima bulan lima dari mulai lahir hingga sekarat dalam jiwaku
Yang ku kenali sangat parfum miliknya
Karena diam-diam kucuri hendak kupakai,pikirku alimnya akan tulari diriku yang binal

Ahh….aku mulai sakit
Ragaku rapuh nian sangat
Otakku mulai aus,bak besi karatan penjara-penjara tanah Irak
Jiwaku mulai mati ragui sang waktu,ragui sang malam, hingga aku meragui semua

Tapi Tuhan kirimkan aku malaikat
Malaikat berbibir seksi,bola matanya bundar, beralis tebal, bernama wanita
Ia kuatkan aku,dinasehatinya aku
Diberinya aku cinta

Tapi….
Aku tidak miliki cinta pikirku
Hingga kugantung perasaan itu tak terkira
Bak tali lasso yang terdiam, tak terjamah, tak terlirik

7 Oktober 2008
Aku mulai bangit memang, beberapa purnama lewat
Hendak kucukuri rambut-rambut raga
Bak Pangeran di meja judi
Telah ku gadai, ku lelang hatiku untuk wanita bersuara manja, membosankan

Menghabiskan pulsa menelponku malam-malam
Sekedar basa-basi tanpa makna
Hambar tanpa rasa, tanpa cinta
Walau ku akui aku menjadi lelaki jalang, pelacur tengil dalam sejarahku sebagai lelaki

Tapi terkadang aku kasihan pula
Saban hari ia menghampiriku hendak makan mie ayam
Di ajaknya aku,di rayunya aku
Ahh….aku juga manusia, toh aku masih miliki hati, walau kanan kiri bopeng tak berpola lagi

Hingga aku putuskan aku tak layak untuknya
Hingga ku cari-cari alasan sakiti hatinya
Hingga aku berlari menjauh, berlalu dari dunia dirinya
Sang hawa malang, salah jatuh cinta

Sedang jantungku telah mulai tak berdetak lagi
Mati rasa, sekarat tak bertepi
Selepas ku tahu kencang-kencang suara merpati putih tanah seberang
Suara kematian

Suara-suara gaduh
Penuh intrik,kontradiksi tak tertahankan
Bercerita sang hawa hendak berlabuh cinta, memetik buah surga
Berkode tanggal lima bulan lima

Aih….peduli apa diriku
Aku siapa kini pikirku
Inginku palingkan semua, sembunyi-sembunyi rintihku
Tapi lubuk hariku nanah-nanah meruak keluar, ratap-ratap jiwaku sebagai lelaki

Pecundang jalang
Tak pernah ucap cinta
Tak pernah akui semua
Hingga aku memang jatuh, sadar aku memang tak ubah debu pekat arang

7 Oktober 2009
Tanpa kisah
Tanpa cerita
Tanpa rencana
Tak tahu arah, tersesat pikirku membatin

NB:
Well guys…harap do’a kalian agar saya bisa lebih “DEWASA” menjalani kehidupan ini.AMIN.
02.23 Witeng,6 Oktober 2009. Panji Asmara.30. Ditemani lantunan “First Love” Utada Hikaru…Ahh…suck song for me this moment..
Patah hati????Humm……,:p





anti-FITNAH, sebuah renungan…

3 10 2009

Kiranya ini adalah sebuah “sharing” semalam dengan seorang teman.Sebut saja namanya “ANDI”.

Ini kiranya menohok kita semua. Dan bahkan saya pribadi kaget (baca:syok) bahwa ini umumnya berlaku di daerah kita.Daerah BIMA (Mbojo)

Kiranya ini hanya “sharing” dari seorang anak Bima yang memiliki kepedulian akan Bima Dana Mbojo,Dana Mbari,Dana ma Bareka.

Menurut dia lazimnya di Bima memiliki suatu “tradisi” yang aneh bahkan sebut saja “menjijikkan”.

Bahwa untuk meraih posisi tertentu (jabatan-red) sering terjadi silang sengketa.Kampanye negatif (Black Campaign) yang dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Tidak memiliki nurani.Tak punya hati.
Bahkan terkadang terjadi perang *FITNAH*. Menjatuhkan KREDIBILITAS dan Kapabilitas seseorang demi keuntungan pribadi. Hantam kromo tanpa tedeng aling-aling demi sebuah tujuan…

Sebuah JABATAN yang seyogyanya adalah sebuah amanah masyarakat sering kali diperebutkan dan diserobot tidak melalui jalur “LEGALITAS” sesuai konstitusi yang berlaku dalam tata perundangan dan terlebih nilai-nilai moralitas dan sisi humanisme sosial.

Sekali lagi ini hanya sebuah “Sharing”. Kiranya kita dewasa dalam menyikapi segala gejolak yang terjadi di masyarakat.

Bukankah perilaku Amoral seperti demikian diatas tidak bisa dibenarkan??
Kiranya untuk kedepan nanti bahwa dalam segalanya kita cukup memiliki kelapangan dada dan memiliki kecakapan politik untuk menghargai “orang lain” dan menerima saja apa pun ketentuan yang berlaku sesuai seperti aturan yang semestinya.

Ahh…Fitnah memang lebih kejam dari pembunuhan. Fitnah memang akan merontokkan segala sendi-sendi kepercayaan, keakraban dan nilai-nilai integritas seseorang yang dalam bahasan ini ada “korban / terfitnah”.

Bukankah “fitnah” sang Iblis hingga Adam dan Hawa harus terusir ke bumi.Setelah kehidupan yang cukup nyaman dan abadi di “Jannah”.

Bukankah “fitnah” juga yang menyebabkan Sayyid Qutb dan beberapa ulama terhormat harus meregang nyawa di temali gantungan??
Bukankah “fitnah” pula yang menyebabkan para “Ahli Bait” harus terpenggal satu-satu di padang Karbala.

Dan bukankah “fitnah” pula hingga beberapa Daulah Usmaniyah, Abbasyiah dan kesultanan-kesultanan yang berjaya dimasa lampau di bumi ISLAM hingga tercerai berai tak bertepi. Dijajah dan dijadikan budak??Anjing penjajah yang berujud manusia

Ahh…………….STOP FITNAH!!!

NB:
Ini hanya sebuah “refleksi”. Tidak merupakan antithesis sebagai “Fitnah” itu sendiri.

Kiranya dalam beberapa bulan kedepan kita memiliki kecakapan dan kemampuan yang tinggi dalam *mengamati* baik-baik apa yang berlaku di tanah kita. Dana Mbojo.

Ini bukan “TITIPAN”.Murni dari gejolak batin saya untuk salng “Mengingatkan”.

4 other (bukan orang Bima), kiranya refleksi diatas adalah berlaku bagi siapa saja. Dimana saja,

Wallahu Alam bishohab….Amin Alaik!!!

Sincerely,
Asrarudin Hamid





Simply Bima (Kesahajaan Bima)

2 10 2009
6819_1147817612732_1146303523_30397465_6055825_n

Bimanese women with "SARIMPU"

Bima….A place where located in eastest side of West Nusa Tenggara ,Indonesia.Where exatly in eastest side of Sumbawa island near Komodo island.

(Bima. Sebuah tempat yang berlokasi di sisi timur provinsi Nusa Tenggara Barat.Tepatnya di ujung timur pulau Sumbawa.Dekat Pulau komodo.Yang kini telah terbagi menjadi Kabupaten dan Kota Bima).

INDONESIA

INDONESIAN Map// Peta Indonesia

Bima-Peta2 P.Sumbawa

Lombok and Sumbawa Island (West Nusa Tenggara Provinci) there is in pictures shown Bima// Bima ada dalam gambar....NB:Foto dari google.com

Bima located exacly:

North side: Flores sea
South side: Indonesian ocean
East side: Sape straits
West side: Dompu regency
(Dompu and Bima has same culture mainly,known as “Dou Mbojo”)

(Dan batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara-Laut Flores.
Sebelah Selatan-Samudera Indonesia
Sebelah Timur-Selat Sape
Sebelah Barat-Kabupaten Dompu).

Bimanese youth// Pemuda Bima, Located:Kampong Sigi,Sape

Bimanese youth// Pemuda Bima, Located:Kampong Sigi,Sape

There are famous etnic group living,such Bimanese(dou mbojo-red) as mayority and other small etnic group Donggo (dou Donggo),Buginesse,Bajo,Malay,Javanese,Arabic,Chinesse,etc.Mayority of Bimanese is moslem. An absolutely-obey moslem.But,they are very tolerate for other religion exist.

(Terdapat beberapa suku yang mendiami Bima.Mayoritas adalah suku Bima (dou mbojo), Dou Donggo, Bugis, Bajo, Melayu, Jawa, Arab, Cina dll.
Mayoritas orang Bima adalah muslim.Tipe muslim yang taat.Tetapi memiliki toleransi tinggi terhadap pemeluk agama lain.)

Wanita bima *podeng*//ikat bawang....Bimanese girl at onion farmland

Wanita bima *podeng*//ikat bawang....Bimanese girl at onion farmland

Benhur..Traditional transportation Located:Sape,East Bima...

Benhur..Traditional transportation Located:Sape,East Bima...

In ancient time there is a Bimanese Kingdom (Kesultanan Bima) which exist as a popular Kingdom in middle and east part of Indonesia.
There are still builded a Palace of Sultan (Asi Mbojo) and Sultan moesque..,

(Di waktu dahulu terdapat kesultanan Bima yang mana sangat terkenal di bagian tengah dan timur Indonesia. Dan sampai sekarang masih bisa ditemui Istana Kesultanan (Asi Mbojo/Museum Bima) dan mesjid Sultan).

Asi Mbojo...

Asi Mbojo...

Bimanesse are unique and simply. There are still defence own tradition,culture,custom and way of life which belong toIslamic value (Syariah Islam) althought some people like another Indonesian were influence by other culture.

(Orang bima cukup bersahaja. Sebagian besar masih mempertahankan adat istiadat, budaya dan kebiasaan yang sejalan dengan nilai Islam yang berkembang di Bima (Syariah Islam-red) walaupun sebagian yang lain telah terpengaruh oleh budaya lain sebagai mana umumnya orang Indonesia).

Farmland at Dodu, Bima city.. Foto:By Multazam Abdullah

Farmland at Dodu, Bima city.. Foto:By Multazam Abdullah

At Torowamba..

At Torowamba..

There are some awesome and beautiful place in Bima. Matamboko and Torowamba beach, Bajo island which Pasir Putih and Telaga Ana Fari (located in Sape,eastest distric of Bima regency as known as East Bima), Sangiang volcano (located in Wera), House of Sultan (Asi Mbojo/Bima museum), Pulau Ular (snakes island,those the snakes unwild and unbitten one), Lawata beach, Ama Hami, Pasar Senggol (Senggol market),etc

(Terdapat beberapa lokasi wisata yang indah dan menarik di Bima.Pantai Matamboko dan Torowamba,Pulau Bajo dengan Pasir Putih serta Telaga Ana Fari (lokasi di Sape,bagian timur Kabupaten Bima atau yang terkenal dengan Bima Timur), Gunung berapi Sangiang (berlokasi di Wera), Istana Kesultanan (Asi Mbojo/Museum Bima), museum Sampa Raja, Pulau Ular (Ular laut jinak dan tidak berbisa), pantai Lawata, Ama Hami, Pasar Senggol,dll.)

6819_1147806572456_1146303523_30397452_3043654_n

Bajo pUlau..

Berlari ke Ujung Pulau..........// Run away into end of island

Berlari ke Ujung Pulau……….// Run away into end of island

Here a simple effort to promote Bima.Hope Allah PBUH bless you and me.

Sincerely,
Asrarudin Hamid