*****
Di hari hujan
Hujan turun satu-satu.Dari langit. Buih-buih tak tertahan dan mulai merontokkan sebentuk kerontang tanah bumi.Hujan.
Tetapi hari ini. Hujan turun tak seperti biasanya.Ia pelan lalu keras-keras seperti bebatuan yang terlempar dari surga.Hujan.
Tetapi hari ini aku dingin dan telanjang. Hujan terlalu sering membasahi hati dan jiwa-jiwa. Dingin merasuk-rasuk ke belulang.Hujan.
Maka aku menulis selembar doa untuk langit.
Untukmu yang bernama langit:
Hey, kau yang bernama langit. Berhenti turunkan hujan !!!!
Aku lagi tak butuh hujan.Hujan basahi diri, aku menggigil.Beku
Tuhan bermurah hatilah.Hentikan hujan.Dan biarkan mentari bersinar-sinar.Teja ber-pelangi sepanjang hari.Wahai Engkau yang adalah Tuhan. Bisakah kabulkan do’a-do’a?
Dari Aram,Sapporo Aleppo dan Tanah Baka selaksa puja-puja. Harap hujan tak turun lagi. Air telah menerjang sebatang pohon ara dan jiwaku. Berhenti turunkan hujan atau kami harus menunggu Bah dan banjir menimpa lagi?
Hujan, aku benci hujan!






