Aku,kamu……

 

Aku butuh kamu
Cukup diam di sampingku
Menghalau sepi
Jua rindu yang membuncah tak bertepi

Pada rinai hujan ku pandang bayangmu yang hilang
Jua pada angin agar membawa pesan
Tentang aku
Tentang kita

Pada awan ku lempar sejuta kalut dan kebimbangan
Apa kita kelak berjumpa di tempat khayalan?

Kita pernah berjanji
Jua menulis prasasti
Atau kata-kata itu kini mengendap menguap
Pada udara dan mentari yang lupa bersinar

Aku, kamu
Kita hanya mengurai kata-kata
Tanpa pernah mampu meneruskan semua drama
Atau lakon sandiwara?
Bukankah bibir kita saling berpagut mesra?

Aku, kamu
Kita tak pernah mampu berkata
Untuk kelak jua bercerita
Tentang degup jantung yang hilang terpaksa
Waktu Tuhan kita ingkari memesta

Aku, kamu
Kita?

Potret “Sambori” dalam Primitive Runway Trans TV

Intro

Pasti kalian sudah menonton acara “primitive runway” edisi Jum’at 17 Desember 2010 ini berjudul Negeri di Atas Awan, dengan setting di daerah sejuk, indah nan elok bernama Sambori, di Kabupaten Bima. Nusa Tenggara Barat. Indonesia.

Oke, kali ini tidak ingin bertele-tele hanya untuk membahas polemik penggunaan kata “primitive” yang memang menurut penulis sendiri adalah sebuah bentuk pelanggaran akan nilai-nilai kemanusiaan, Primitif terasa begitu rasis dan “kurang ajar” bukan?

Lebih jauh bisa di baca di sini, repost dari koran tempo,Mereka Bukan Primitif atau Nota Surat Keberatan AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara)

 

Antusias

“Just info : Jangan lupa nonton Primitive Runways (Kata primitive masih di
perdebatkan dan di tuntut karena bermakna negatif dan berbau kolonial – tempo), pukul 19.30 WIB.Kali ini tentang kebudayaan Bima.”Eksotika  Sambori”.Sambori itu wilayah di Bima.Masih alami,rumah adat “lengge” danbahasa nya berbeda dgn bahasa Bima yang di pakai umumnya oleh etnis Mbojo.Nonton intinya!!”.

Ini adalah status Facebook saya beberapa jam sebelum acara ini di tayangkan di stasiun TV. Antusias, merasa bangga bahwa salah satu daerah di Bima akan di show-up dan bakal di tonton oleh jutaan mata orang Indonesia. Apalagi akan ada Rio Dewanto dan Lia WaOde,  artis ibukota di acara ini.

Tapi, pun bahkan sebelum acara tersebut selesai, banyak “keanehan” bagi saya pribadi. Saya bertanya, INI ACARA APA?

1. Penyebutan suku Sambori. Apa mereka sebelum masuk ke sebuah komunitas adat, suku dan budaya tertentu tidak belajar/memahami atau setidaknya bertanya ke “budayawan”, pelaku sejarah dan tetua lain nya dari sebuah suku (etnis) tersebut?Di Bima tidak ada yang menyebut suku Sambori. Penyebutan suku Sambori jelas sebuah “kesalahan” fatal, kesalahan sejarah dan sebuah penyesatan informasi.

Silahkan baca komentar dan (RT) di twitter sebagai berikut :

RT @duditboo: inii edisi @primitiverunway  yang paling keren.Suku sambori bener2 yang paling unik deh.hehehe .

RT @ErwinsyahAmir: Baru tau ada suku bernama “sambori” yg sangat unik di indonesia ini. Goodjob @primitiverunway.

Mereka tidak salah, karena memang informasi nya yang salah:
Di Akun twitter nya @primitiverunway, menulis :

“Don’t forget,this nite @Riodewantoo, @LiaWaode akan menghangatkan suasana malam anda. Di suku Sambori, Bima-NTB pkl: 19.30wib Viva Indonesia

2. Pada awal acara, perlukah pemeran wanita berteriak “tidak jelas” seolah melihat hal-hal mistis? Bagi saya pribadi jelas ini sebuah “pembodohan”. Seolah di daerah Sambori itu tempat berdiam makhluk2 non ragawi? Amat sangat tidak perlu.

3. Penyebutan Oi mangge (air asam) sebagai makanan khas, Ahh, yang ini saya tidak tahu. Asam? Oi mangge bukan makanan khas, masih banyak yang lain. Yang bergizi, tidak menyebabkan sekresi asam lambung begitu hebat.

4. Adegan perkelahian tidak penting Rio dengan salah seorang warga sambori? Bayangkan jika yang menonton adalah orang yang benar-benar tidak tahu tentang Bima.

Bima, masyarakat Bima adalah orang-orang yang memiliki budi pekerti, luhur, berjiwa ksatria. Terlalu picik penggambaran seperti itu. Penulis tidak tahu akan seperti apa pemikiran orang non-Bima tentang suku Bima.

Masyarakat Bima itu adalah sebuah komunitas besar. Bima di zaman sebelum penyatuan ke NKRI adalah sebuah kesultanan dengan nilai2 syariat Islam yang terpatri kuat. “Ada matengi Sara, sara matengi karoa, Lembo Ade paja ra Sara, Maja labo Dahu, Ngaha aina Ngoho “. Ini adalah semboyan semboyan dan slogan yang terpatri di kami, orang-orang Bima.

Mayoritas orang Bima adalah penganut agama Islam yang taat, menghormati tamu. Tau adab. Penggambaran dan adegan itu terlalu picik. Jadi bagi siapa saja di luar Bima. Perbaiki jikalau sempat ada pemikiran bahwa kami “primitive” dan memang tak beradab.

Akhir kata, penulis akui bahwa acara “Primitive Runways” ini bagus dalam hal
memberikan/menyiarkan eksotika keragaman budaya Indonesia. Bandingkan dengan acara-acara sinetron dan semisalnya yang “membosankan”.

Tetapi harap di catat, bahwa :

1.Kata “primitive” itu memang seyogyanya di tinjau dan di ganti. Betapa menyakitkan rasanya bahwa keunikan, keanekaragaman budaya kami harus di ekpos di sebuah acara berjudul “primitive” runways.
Primitive” word it’s totally fuckin’ rasist!!

2. Di tempat manapun anda akan masuk ke sebuah suku/komunitas dan hendak memperkenalkan profil masyarakat adat, pahami segi antropologi-budaya, sejarah dan semua elemen-eleman nya agar tidak terkesan sembrono dan serampangan.

3. Bagi para “artis/publik figure”, bersikap biasa saja. Tidak masalah kalian besar dan lahir entah di kota besar, di Jakarta dan entah dimanapun. Yang alami saja, tidak usah menunjukkan ekspresi yang berlebihan, “shock culture” dan lainnya. Kita sama-sama orang Indonesia. Entah Jakarta, Aceh, Bima, Sabu, Sulawesi, Papua adalah bagina dari NKRI dengan keunikan dan keragamannya. Bhineka Tunggal Ika, pasti di ajarkan di sekolah-sekolah.

Salam…,

 

Foot note:

Ada matengi Sara, sara matengi Karoa (Adat bersendikan Syariah/Syara. dan Syara berdasar Al-Qur,an dan agama).

Lembo Ade paja ra Sara (bersabarlah, ikhlaskan semua ikhtiar dan usaha semata Allah SWT, penentu nya)

Ngaha aina Ngoho (Makanlah apa yang telah alam berikan, jangan rakus hendak berbuat kerusakan di muka bumi)

Maja labo Dahu (Malu untuk melakukan kebejatan dan pelanggaran, takut karena melanggara aturan pantang di lakukan).

 

Foto : koleksi Primitive Runways

AMAN Sampaikan Surat Keberatan Mengenai Tayangan Primitive Runaway

Aliansi Masyrakat Adat Nusantara (AMAN), melayangkan surat keberatan kepada Trans TV atas penayangan salah satu progam reality show mereka yang berjudul Primitive Runaway. Lewat surat keberatan yang didukung lebih dari 270 individu dan lembaga, AMAN menyatakan keberatannya dengan persepsi dan penggunaan kata primitif terhadap suku dalam masyarakat adat. Kata primitif erat kaitannya dengan konotasi negatif, tafsiran dan asosiasi tindakan, stigmatisasi, tuduhan keterbelakangan, ketertinggalan, warisan kolonial, pemaksaan dan penindasan dengan inkulturasi, asimilasi budaya luar modern.

Dibawah ini adalah isi surat keberatan yang ditujukan kepada Trans TY tersebut

 

SUKU APAPUN DI INDONESIA BUKAN PRIMITIF

HENTIKAN TAYANGAN YANG MENGARAH PADA EKSPLOITASI DAN PENGHINAAN TERHADAP SUKU TERTENTU DALAM MASYARAKAT ADAT INDONESIA TERMASUK MELALUI PROGRAMPRIMITIVE RUNAWAY OLEH TRANS TV

 

Pendahuluan

Mereka bukan primitif! Terlepas tontonan tersebut adalah gambaran realitas yang mungkin mengandung kebenaran faktual dan objektif atau inovasi kreasi media untuk tujuan hiburan semata-mata dengan segala maksud dan motif popularitas selebritis dan bisnis dibaliknya, akal sehat dan hati nurani siapapun akan mengatakan tidak satu orangpun dari anggota salah satu, mungkin juga beberapa orang anggota atau kelompok suku dalam masyarakat adat di Indonesia sebagai primitif karena berbeda asal usul, suku, adat istiadat, kebiasaan, termasuk cara dan pola hidup sehari-hari dari dunia modern dan selebritis.

Pernahkah pihak produser, programmer dan editor PRIMITIVE RUNAWAY di TRANS TV menjelaskan secara lengkap dan objektif makna dan implikasi, definisi, konotasi dan asosiasi kata PRIMITIVE atau primitif terhadap keberadaan, asal usul, adat istiadat, pola dan tradisi hidup, makan dan makanan khususnya kepada suku dalam masyarakat adat yang telah menjadi materi-objek gambar dan tontonan acara tersebut?

Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia No. 02/P/KPI/12/2009tentang Pedoman Perilaku Penyiaran Bab VI Penghormatan terhadap Suku, Agama, Ras dan Antargolongan memberikan koridor yang jelas tentang penyiaran khususnya Pasal 6 Lembaga penyiaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, antargolongan, dan hak pribadi maupun kelompok, yang mencakup keragaman budaya, usia, gender, dan kehidupan sosial ekonomi.

Continue reading

Mereka Bukan Primitif

Koran Tempo, 24 November 2010

Mereka Bukan Primitif

Roy Thaniago,

KOORDINATOR REMOTIVI, BEKERJA DI ALIANSI MASYARAKAT ADAT NUSANTARA (AMAN)

 

Kalau kita merasa tidak ada masalah dengan kata “primitif”, yang berkeliaran bebas, tulisan ini akan membuatnya tampak sangat ber masalah. Dan, kalau tetap merasa tidak ada masalah, mungkin masalahnya ada pada diri Anda. Saran saya: segera temui psikiater terdekat.

“Primitive Runaway”, sebuah tayangan televisi, yang mungkin merupakan titik kulminasi hasil pemahaman kolektif masyarakat Indonesia tentang masyarakat adat, adalah salah satu sumber masalah itu. Tayangan ini tidak hanya mengandung satu masalah, tapi juga tiga masalah sekaligus: (1) mendiskriminasi masyarakat adat dengan menyematkan predikat “primitif”, (2) merekayasa realitas kehidupan masyarakat adat, serta (3) mereproduksi dan menyebarkan kesesatan berpikir mengenai masyarakat adat.

Program baru Trans TV yang diputar seminggu sekali ini menayangkan kisah perjalanan dan aktivitas pasangan selebritas di suatu komunitas masyarakat adat. Jualan kecapnya sudah seksi sejak awal, yakni memperolok eksotisme dan membenturkan modernitas dengan tradisionalitas. Ramuan ini melahirkan cerita dan konflik. Pengusaha memang selalu tahu resep tokcer.

Lantas apa masalahnya? Continue reading

a Letter..,

Untukmu nyonya,

Apa kabarmu malam ini nyonya?

Masihkah kau merapikan seprei usang di pojok ranjangmu, dan esok pagi-pagi kau rapikan rambutmu yang acak-acak di cerminmu. Cermin hadiah perkawinanmu.

Lalu kau beranjak menghisap udara pagi yang menikung jendela lantas menerjang rongga-rongga dadamu.

Aku masih menyimpan potret masa mudamu. masih ku simpan lekat-lekat di belai otakku. di sini., tepat di sini, di Sela Tursika ku.Engkau menyanggul rambutmu seperti noni-noni belanda. berpadu padan dengan rok hitam yang kau kenakan di umur dua puluhan mu, masihkah kau simpan rokmu, nyonya?

Continue reading

Istana 5 Kata.,

Status2 Facebook yang “melow”,

Agar kamu tahu aku mencintaimu.Kesini.Buka bajuku.Lalu dengan belati yang engkau miliki nelah dadaku.Kau akan temukan sepotong hati yang tertulis namamu.Di situ.Di sudut antara jiwaku.

Inikah inginmu.Pada akhirnya terbahak dalam sepi.Sedang desah angin telanjangi dosa yang kita lewati semalam kelam.Dari tepi ranjang.Erangan iblis berujud manusia.Dalam nama cinta kau dekap aku.Dalam nama cinta kau jadikan aku pelacurmu.Lalu kau campakkan aku ke pojok neraka.Aku lelaki.Semalam kita bercinta di tepi gua kehidupan.Dalam nama cinta.

Hanya mampu memandangi potret usang.Tersenyum kecut dalam diam.Aku tahu ia mencintaiku.Pun begitu jua diriku.Cinta.Tanpa definisi.Lalu,ada setitik embun mengalir lembut dari batang-batang jiwa.Dari kelopak mawar pekat yang kelam.Dari biji hati.Lelaki itu.Ia terdiam.Aku mencintainya.Tanpa kata.

Aku menangis di senyap malam di ujung gelap.Aku mencintaimu.Tapi kau perlakukan aku.Aku.Sampah roti remah.Pada malam yang menusuk belulang dan kelaminku.Bayangmu menjalar endap-endap. Membunuhku sebagai lelaki….

Aku mencium selasar udara hanya tuk buang cemar paru-paru karena nafas cinta.Aku menghadap mentari untuk bakar hatiku yang terluka.Dan aku menyelam ke samudra agar tenggelam beku rasa sayangku padamu.Padamu wahai pelacur.Tapi kenapa aku tak bisa membuangnya.Meski hanya bayangmu…..

Maka ku tulis bingkai kata,serumpun lili putih,kemenyan dan bakar dupa.Selaksa doa-doa.Untuk manusia.Mati.Tertembak di semenanjung Malaya.Lalu siapa kau saudara??Kau serumpun.Kau saudara.Maka kau adalah binatang.Tak layak kau kusebut manusia.Wahai anjing yang menembak mati manusia!!!

Kau menusukku.Wahai pelacur tercantikku. Bukan penolakanmu. Bukan. Karena rasa itu tak pernah menyeruak.Terselimut erat di bilik hati. Aku sakit karena kau tak menghargaiku. Sebagai lelaki,sebagai manusia…Iblis berujud. Pelacur berkain.PELACUR LIMA

Di hari hujan

*****

Di hari hujan

Hujan turun satu-satu.Dari langit. Buih-buih tak tertahan dan mulai merontokkan sebentuk kerontang tanah bumi.Hujan.

Tetapi hari ini. Hujan turun tak seperti biasanya.Ia pelan lalu keras-keras seperti bebatuan yang terlempar dari surga.Hujan.

Tetapi hari ini aku dingin dan telanjang. Hujan terlalu sering membasahi hati dan jiwa-jiwa. Dingin merasuk-rasuk ke belulang.Hujan.

Maka aku menulis selembar doa untuk langit.

Untukmu yang bernama langit:

Hey, kau yang bernama langit. Berhenti turunkan hujan !!!!
Aku lagi tak butuh hujan.Hujan basahi diri, aku menggigil.Beku

Tuhan bermurah hatilah.Hentikan hujan.Dan biarkan mentari bersinar-sinar.Teja ber-pelangi sepanjang hari.Wahai Engkau yang adalah Tuhan. Bisakah kabulkan do’a-do’a?

Dari Aram,Sapporo Aleppo dan Tanah Baka selaksa puja-puja. Harap hujan tak turun lagi. Air telah menerjang sebatang pohon ara dan jiwaku. Berhenti turunkan hujan atau kami harus menunggu Bah dan banjir menimpa lagi?

Hujan, aku benci hujan!