Bidadari Lima, sebuah novel (introduction)

By: Asrarudin Hamid.,

Aku akan mencarimu

Memeluk wangi desahmu di antara laut yang berbisik

Atau pasir yang mencerca

Padamu cinta. Engkau

Sebuah kisah tentang persahabatan,penghianatan,kegagalan, luka dan CINTA.Semoga saya bisa menulis, menyelesaikan “NOVEL” ini. Amin…..,

(1) Bidadari Lima.,

Ini pagi.


Berarakan awan di sisi langit, kejar-kejar satu-satu. Mungkin langit sedang mengadakan perhelatan. Pun angin meniup-niup menjelma satu-satu. Dalam teja pagi ini, damai. Mentari bersinar rengkuh selembut kain beludru nyonya-nyonya Cina. Pagi yang cerah di ujung tanah Naka.

Aku masih terjaga di ujung jendela. Menatap mentari yang mulai menampakkan wajah, pelan-pelan terkesibak dari awan langit timur savanna. Beranjak menuju langit-langit bumi.Mentari yang bulat sempurna. Aku lelaki, anak-anak bumi. Wajahku wajah khas orang-orang Naka dengan ciri bibir mungil, hidung mancung runcing alis tebal tak tertata.

Aku bercermin pagi ini. Cermin.

Pagi yang menyeruak selepas sholat subuh di mesjid sebelah rumah, Mesjid al-Hidayah. Pagi ini aku akan bergegas ke sekolah bernama SDN No 3 Sape.SDN kumuh tak tertata. Halamannya hanya di tumbuhi bonsai-bonsai yang di ubah-ubah modelnya,setiap minggu.Minggu kemarin berbentuk hewan-hewan purba.
Diujung kelas satu bentuk bonsainya seperti sekumpulan kelinci yang mencari mangsa, satu-satu melepas taring dan cula. Kelinci-kelinci unik.Di ujung kelas tiga ada bonsai yang tertata seperti angsa-angsa dengan sayap patah tak terkesima. Sayap-sayap tak teratur bunga-bunga. Absurb, tidak nyata.

Dan di ujung kelas enam, kelasku. Sekelompok primata dan badak cula. Saling memeluk satu sama lain seraya bercerita pada bumi bahwa kami makhluk-makhluk unik terangkai dari bunga-bunga.

Bonsai tak terlirik manusia. Sang master piece dari itu semua adalah guru kami. Bernama Ismai.Aku menambahkan namanya Ismail Montegarsa.Berperakan pendek dan berkacamata. Ismail berumah panggung dan memiliki putra bernama Agus, Agus Salim.

Tahun ini sudah mulai berkumis. Suara sudah parau, otot mulai tergenapi satu-satu. Pamer-pamer body. Ia lahir 17 agustus 1985.

Ia menjadi kepala “suku” komunitas kami. Karena ia berwibawa seta memiliki suara sengau.
Perawakan yang mulai meremaja. Rumah panggung itu menjadi semacam base camp kami, memiliki kamar rahasia yaitu kamar agus yang di sulap dari sebuah “wombo” yang tertata.

@@@@@@@@

Maka pagi ini aku memang masih bercermin.
Di ujung kamar.Aku mematung agak lama dan memperhatikan inci demi inci wajahku.Kenapa seandainya bibirku agak mungil lagi sedikit aku akan lebih sempurna atau jidatku tidak terlalu keluar begini mungkin akan lebih bagus lagi, pikirku. Lamunan sepi dan aku terkesiap oleh suara-suara, suara-suara mati. Suara-suara tak terdefinisi. Ahh, aku ganteng dalam definisi.

Ada yang memandangku lama, lelaki. Dia terbahak, terkikih tak sempurna. Melempariku dengan bantal seraya berujar tegas, “udah lama-lamain saja cerminnya, pecah lama-lama”.Dia adikku bernama arif.
“Anak kecil diam”, seruku.

Dia tertawa ringkih.Dengan tawa dunianya. Dunia anak kecil rupa berumur 12 tahun.

Pagi ini aku berseragam pramuka. Ini hari sabtu. Hari istimewa karena aku selepas ke sekolah akan berkumpul di sekolah dekat kantor kecamatan. SDN No.1 Sape. Bertemu dengan jawara-jawara lain. Jawara Lomba bidang studi tingkat kecamatan. Aku mewakili Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) selepas menang dalam lomba itu minggu lalu.

Aku tiba disana bersama bayangku. Sendiri.

Aku duduk termangu di ujung kelas lima membaca helai-helai peta. Aku harus mengingat nama kota-kota. Dari Chiang mai, Tiangkok hingga Sacramento.Tentang Italia, tentang perang dan kecamuk mati manusia-manusia di Afrika, Ethopia dan Adis Ababa. Atau kota-kota Indonesia. Tentang Aceh yang bergejolak, tentang Papua dan orang Banjar atau pelaut Sulawesi yang terdampar dan beranak-anak di Madagskar, Afrika.

Aku membaca helai-helai dan mengingat tentang tokoh-tokoh.Dari Pharaoh dan Musa, Ibrahim dan Nebukader Babilonia hingga Isa, Muhammad dan manusia-manusia. Aku asik membaca sejarah Palestina.Tentang Palestinian Liberation Organisation (PLO) yang aku baca mencak-mencak sehabis berperang dengan Yahudi. PLO, kata yang asing. Lalu tentang perang Salib, tentang pertikaian agama-agama. Topeng-topeng dan simbolisasi manusia. Aku membaca tentang Perang parengreng, tentang Gajah mada, Aru palaka.Tetapi aku tak menemukan tentang darahku, sejarah orang-orang Bima. Apa kami bukan manusia, bukan bagian dari bumi hingga tak pernah tercetak dalam sejarah manusia

Aku mengulang.Membaca dan membaca peta-peta, peta buta. Karena mengingat kisahku, aku hampir kalah dari anak sekolah sebelah jika nilai ujian tertulisku tidak lebih tinggi dari dia.
Maka aku tidak akan berada disini. Maka kisahku akan berbeda. Aku tidak akan pernah bertemu pelangi dan mawar-mawar merekah lima-lima.

Aku masih asyik membaca cerita tentang Yahudi yang terbakar dan di bunuh di Auzwith oleh bangsa Arya.Aku termangu mungkin mereka harus dikasihani pikirku hingga tiba-tiba ada suara-suara. Ada alunan simfoni berujar manja menyeruak dari bilik sebelah. Aku terkesima, aku tersihir, aku.
Aku di mabuk suara-suara. Ada nyali berujar di dada,”kenapa kau tidak menengoknya”, siapa pemilik suara.

Aku bangkit dan berlari.Menerjang sejuta tembok-tembok kuarsa.Bangku-bangku dan deduri di depanku, aku lawan. Seorang pangeran berkuda. Terkesima.
Dan di ujung kelas sana sesosok hawa berbicara, mengeluarkan fatwa-fatwa tentang lingkungan, tentang keadilan manusia,tentang kesetaraan.Seorang putri jelita. Rambut terurai manja, pipi putih susu.

Wanita.
Jerlik mata dan lengkuangan suara-suara, dia tercekat. Mungkin pikirnya ada pengintai yang hendak menghujamkan tombak-tombak.
Ahh, aku tak membawa senjata”,pikirku.
Tapi, dia terdiam sejenak, menarik nafas dan mulai melanjutkan kisah tentang manusia, tentang pilihan menjadi wanita.

Aku mundur selangkah.Ada hawa jalari tubuhku.Aku ektasi tiba-tiba. Aku melihat bidadari di ujung kelas lima sedang berbicara pada ku, berbicara pada semua. Aku mundur, menutup jendela dan pintu. Aku terkesima. Tertawa tak tertata, tak terdefinisi, aku gila.Hingga semuanya berakhir tiba-tiba.Aku jatuh dari langit mimpi.Jatuh dan memeluk tanah bumi.Suara seseorang memanggilku.Aku sadar, aku memang masih di bumi.

“Jadi, bagaiamana??udah selesai baca-baca dan hafalnya??”,lelaki paruh baya menegurku.
“Iya, iya pak“,ujarku pelan.

“Baiklah,hari ini kita tes pemantapan.Cuma sebagai evaluasi”, serunya melanjutkan sembari menyodorkan beberapa halaman kertas yang harus aku isi dan aku jawab.

Dia berlalu sedang aku menyelesiakan soal-soal yang kini tak ku kenali lagi. Waktu terasa lama bagiku, dan kini pukul dua belas liwat lima. Aku sudah selesai mengerjakan soal-soal itu. Ah, sudah selesai gumamku, toh juga ini cuma soal evaluasi, minggu depan aku akan ke kota kabupaten untuk mengikuti seleksi tingkat kabupaten Bima.

Aku keluar pintu kelas itu dan mencoba mencari jejak sosok tadi.Tetapi dia menghilang. Berlalu besama desir angin yang menerpa dedaunan pohon nangka dari timur sekolah itu.
Menghilang.Pulang,pikirku.

Aku mengenali seseorang di ujung halaman sekolah itu, melambaikan tangan ke arahku, memangil namaku, aku bergegas kesana.

“Jadi, bagaimana??Bisa jawab soal evaluasinya??“,tanyanya tiba-tiba.,
“Iya”, gumamku pelan.

“Lapar tidak??”,serunya tiba-tiba.Dan aku sudah naik di belakang motor bermerk Honda, berwarna merah metalik.Aku sudah berada disana duduk dengan sempurna.
Tanpa kata-kata aku berada di sini bersama lelaki yang kukenali aroma jiwanya, rambut ikal, bibir tipis, hitam manis, dia ayahku.

Kami melaju bersama desah angin selat Sape.Bersama awan yang berarak dan bau udara yang tercemar ikan kering tanah Bima.Disisi utara ada rumah orang-orang Bugis yang tersusun rapi.Ada ikan teri, cumi dan karamba yang terjemur di halaman, depan rumah-rumah panggung.

Aku tiba-tiba mencium wangi udara bukan bau lagi.Semua berganti dan kini kutemukan diriku di meja restoran baru. Milik orang jawa yang berada di bawah rumah panggung orang bugis, rumah makan bernama “Restoran Arema”.

Aku malu.Seseorang menatapku tajam seolah berkata,”kenapa tadi kau melihatku?Ada yang salah dengaku??

Aku menunduk lama-lama.Membaca daftar menu yang tak ingin ku baca.Ingin melemparkannya saja, agar aku melihat dua bola mata dan sisi lembut wanita. Di meja itu ada beberapa orang yang duduk mengitari. Sibuk memesan satu-satu. Aku masih membaca lama-lama dan mengeja kata-kata.Hingga lamunku tertangkap seseorang di sebelahku, “pesan apa dek??”, serunya tiba-tiba.
Aku terkejiab, kaget. “Ummhhh“, desahku.
“Mana-mana saja”, jawabku.

Dia masih menatapku.Aku buang muka. Kami duduk hadap-hadap. Sementara yang lain sibuk berdiskusi, golongan tua-tua, guru-guru. Mereka pun akan ke kota kabupaten juga, mengikuti lomba. Lomba simulasi P4.

Tentang ayahku.Dia berada disana sebab dia adalah penanggung jawab lomba itu.Lomba simulasi. Ayahku guru. Mengajar di SDN Impres Naru.Mengajar di SMA Muhammadiyah Sape.Menjadi petani, menjadi ayah, menjadi suami.
Lelaki itu tak banyak berkata-kata denganku.Tetapi terkadang keterlambatan anak-anaknya pulang kerumah dan sholat ke mesjid akan di jawab dengan lidi-lidi dari belakang rumah. Mendarat sempurna di kaki, dipaha. Cuma beberapa lidi, yang mungkin itu bentuk pengajaran sempurna ayah-ayah, para lelaki bima.

Makanan tersodor dan tertata di depan meja, hari yang panas menyeruak. Apa aku bodoh dan “idiot”, hingga di depanku tersaji segelas jeruk hangat dan nasi kerapu tikus. Kerapu tikus, memang menjadi andalan rumah makan itu, entah darimana ikan-ikan itu berasal, mungkin para nelayan memangil-manggil dengan aura magisnya,atau mantra-mantra, do’a-do’a hingga ikan itu melimpah di tanah kami, laut kami, laut Naka, Selat Sape.

Panas, dan keringat bercucur. Peluh.
Bajuku basah dan aku harus menikmati segelas jeruk hangat, begitu sempurna.

Sedang gadis di depanku menyantap es buah, dengan satu senyuman menatapku dengan angkuh, dengan satu senyuman menatapku seolah berkata “ini makhluk planet mana?? Pintar sekali, sudah panas-panas malah pilih meminum jeruk hangat, ditambah beberapa kata-kata asing, how stupid you are boy, what a life, poor you”.

Lantas aku menjawab dengan kesan angkuh,tanpa suara-suara, tanpa kata-kata.
“Kenapa lo?? Ini style masa kini,tidak menonton berita?? Lagu terbaru chart MTV dengan VJ denise minggu ini adalah lagunya Cristina Aquileira, Genie in the Bottle dan di rumah aku mendengarkan lantunan Broery Marantika serta Ebiet G.Ade koleksi Ayah. Tentu saja ini style gw, mau-mau ku dong, jawabku membatin. Berlanjut, ini neh makanan dan minuman manusia, mengandung banyak vitamin C, banyak kandungan gizinya”.

Lantas dia menjawab lagi, membatin dengan satu kerlingan mata, satu senyuman culas tanpa kata ke arahku.
Style kamu?? Kampungan bukan??Aku bidadari, aku pelangi, aku berada di bumi, untuk mengajarimu akan arti menjadi manusia, maka kamu lihat pelajaran pertama kali ini?? Manusia meminum es buah ketika terik begini, bukan malah kamu Alien,satu gelas kuning jeruk hangat, ini pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Kamu pakai jidatmu yang keluar dan alismu yang tak tertata itu, atau matamu, ahh,….matamu bagus, aku suka, serunya. Tetapi, mata itu seperti akan menerkamku, seperti mata elang binal.,keras-keras dia mengulang-ngulang, repetisi tak tertahankan “ini pukul dua belas lewat tigaaaaaaaaa puluhhhh menittt”!!!

Lantas aku menjawab dengan kerlingan mata,pura-pura ada pasir yang menelusup di mataku.Pura-pura menyisir rambutku dengan jemariku,seolah ingin mengejek dia.
“Jadi kamu mengamatiku ku juga, jadi kamu melihat ke dua bibirku, atau kamu tiba-tiba menatap alisku, apa aku pangeran mu??”

Dia kali ini buang muka dan hanya menatap kerapu tikus dihadapanku.Menyantap dengan perlahan.Jemarinya menghisap daging ikan itu dengan sempurna.
Menjalar, masuk tanpa nyana kearah bibir mungil dan mulut kecilnya.,

“Kenapa kau tak menjawabku??”, aku mengirim signal-signal berharap dia menjawab.
Tapi dia diam, tapi dia buang muka. Diam.

ber- SAMBUNG……………….,

13 responses to this post.

  1. yakin lw mau bikin novel? berapa halaman mau nulis?
    semoga terwujud deh🙂 amien….

    Reply

  2. (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Wah…. Tarnyata punya hobi lain sebagai penulis novel, nih. Moga ntar bisa kelar meski sedikit demi sedikit

    Reply

  3. sukses selalu dengan novelnya

    Reply

  4. ndawi ka ricu lengae…
    loaku editing dan publish
    mai wa’a ade penerbit di Jogja
    nahu dukung novel ke

    Reply

  5. ku tunggu novelnya kalo udah terbit ya…

    salam kenal :-))

    Reply

  6. Gan salah satu bidadari itu yang ada di model rimpu itu kan ?
    iya kan ?
    iya ya…….
    kenalkan aku dengannya….
    tq gan

    Reply

  7. semoga novelx cpt slesai. nanti aq bsa bdh dibima. ushkan jg novel kritik sosial.

    Reply

    • Posted by Asrarudin on 24 June 2010 at 1:50 pm

      Belum tahu Mas, Doakan saja..sepertinya iya. Kritik sosial juga lah🙂

      Mohon doa nya yah

      Reply

  8. Bidadari 5. segera rampungkan. saya siap hadir launching-nya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: