Surat untuk bintang

Dear bintang.
Apa kabarmu malam ini.Apakah engkau bersinar dan pancarkan cahaya di tengah gelap malam.Dan berkilauan bak permata.Ataukah meredup dan hilang.

Semalam aku terjaga dan menengok ke langit.Langit rupanya gelap dan gulita padam rupa.Awan bertapa dan menebar sejuta “teror” di kelam maya.Aku mencari bayangmu.Tetapi rasanya engkau beranjak.Menjauh,pergi dan menghilang.

Sedang purnama telah lama “mati”.Selepas kabut pekat yang menutup kelambu malam.Dan badai luka yang kian bertiup tak tentu arah. Aku ingat,rembulan pernah bercerita, tentang malam panjang dan dingin di negeri-negeri Sahara.Tentang lolongan anjing dan serigala yang memekak telinga.Tentang unta-unta binal yang rajin bercinta.Tentang jerapah,antelop,kuda,singa

dan burung-burung merak.

Tentu aku ingat sinar rembulan. Ia berwarna putih.Kemilau seperti susu dan permata dari negeri-negeri khatulistiwa.Seperti manikam dan intan. Jernih putih-putih itu warna sinarnya.

Tentu saja aku ingat rembulan.Sebab kala gelap dan tersesat, aku melihat sang dewa memanggilku ke arah bulan.Dewa-dewa malam.

Dear bintang.
Untuk kau tahu, kini aku sakit. Dingin mulai menggerogori tulang-tulangku.Merayap-rayap dan meliuk-liuk. Sepasang cacing pita sedang bercinta di tengah goa.Lantas dingin mulai mengalir melalui aliran darahku, menembus jantungku,ke paru-paruku, lantas menikung keras ke sudut hatiku.

Aku memang punya selimut merah.Yang di beri oleh bidadari terang.Tapi,aku tak ingin memakainya lagi.Pun bahkan aku tak ingin melihat selimut itu.Sebab darah telah mengalir deras dan membuat kubangan tak sempurna di tepinya. Dan sejumlah noda-noda. Campuran antara sperma dan ovula manusia. Selimut merah malang. Selimut luka kelam.

“Kenapa engkau tak mencucinya atau membakarnya?”
Mungkin engkau akan bertanya-tanya.

Bintang.
Untuk kau ketahui. Selimut itu telah aku beri nama. Aku telah memahat sejumlah mantra-mantra dan do’a. Dalam gelap. Dengan redup cahaya lilin ku pahat lekat untaian-untaian kata. Nada dan simfoni dari sini. Tepat di rongga dada.

Memang pikirku aku akan membasuhnya dengan air surga.Atau membakar dengan api neraka. Tapi, pikirku itu sia-sia dan percuma. Sebab aku telah mengetuk pintu sang Tuhan, Kiranya ia memberiku setetes air surga. Atau sebiji batu neraka. Tapi Tuhan diam. Ia tak pernah berkata-kata. Maka itu akupun memilih diam.
Diam dalam senyap. Sepi sunyi mati.

Bintang…,
Aku memang hanya berharap agar engkau kembali bersinar terang. Sebab kini,hanya sinarmu yang ku harap-harap. Aku telah menyalakan obor mimpi dan kayu-kayu cita. Tetapi, hujan kemarin turun dengan deras.Hujan air mata.

Bintang,
Aku menunggumu agar kembali bersinar terang. Terangi malam gelam.

Dari seseorang yang sangat mencintaimu.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: