a Letter..,

Untukmu nyonya,

Apa kabarmu malam ini nyonya?

Masihkah kau merapikan seprei usang di pojok ranjangmu, dan esok pagi-pagi kau rapikan rambutmu yang acak-acak di cerminmu. Cermin hadiah perkawinanmu.

Lalu kau beranjak menghisap udara pagi yang menikung jendela lantas menerjang rongga-rongga dadamu.

Aku masih menyimpan potret masa mudamu. masih ku simpan lekat-lekat di belai otakku. di sini., tepat di sini, di Sela Tursika ku.Engkau menyanggul rambutmu seperti noni-noni belanda. berpadu padan dengan rok hitam yang kau kenakan di umur dua puluhan mu, masihkah kau simpan rokmu, nyonya?


Aku masih menyimpan kenangan tentang wajahmu yang cantik di usia mudamu. mata indahmu dan mancung hidungmu. Pun putih kemilau warna kulitmu. Aku mengingatnya. Rambutmu pirang selepas kau cat abu padi sawah pojok tanah merah tercampur umbi-umbi. seperti dahulu, kau tiru wanita-wanita. dari ibumu, nenekmu hawa.

Lalu bagaimana dengan bilur lukamu kini? Bekas tamparan pipimu.Tepat antara bibirmu.

AKu melihatmu menangis di pojok kamar nyonya.Lalu kau tersenyum ke arah matahari, berdiri, berlalu angkuh.Kau pura-pura. Kau

Tapi suaramu tercekat. Ada sepotong roti yang menyumbat kerongkonganmu. kau berteriak, tetapi suaramu tak pernah terdengar lagi, tak pernah.

Aku masih mengingat nafas mentari, kau berkata-kata. Bahwa kau membenci suara-suara ular, desis-desis. Lalu kau bercerita, dahulu kau adalah mawar, lantas berubah jadi melati, lalu anggrek, euforbia, lalu kau hanya berkilah, aku ingin jadi lili. Lantas kau pun berkilah, ahh..aku tak ingin jadi lili, ia rapuh, terluka, darah merah akan merubah kelopaknya jika tertetes tak sempurna, aku bukan lili, kau berkata-kata.

Lalu kau bangkit. Aku akan jadi kunang-kunang.

Lalu kunang-kunang. Berteriak di pojok bumi. Langit tak pernah menatapku. Ia turunkan hujan-hujan, ekorku, dadaku, bibirku, sayap-sayapku patah. aku jatuh ke tanah basah. Kunang-kunang. Nyala terangnya mulai meredup, pendar memudar, akan mati

Kini ia bangkit, menatap langit berkata-kata, engkau yang bernama langit, Kenapa kau hanya turunkan hujan buatku. kenapa kau tak adil, aku tak akan melihat kau.Lagi

Kunang-kunang mulai bangkit. Ia menepi di ujung telaga.Telaga yang kini terusik tanah-tanah basah, kotor-kotor, debu-debu. Lalu kunang-kunang mulai menangis. Ia mengingat tentang bumi yang selalu basah dan langit yang hanya turunkan hujan, sedari dahulu, kala ia tersadar ia memang kunang-kunang, kunang-kunang bermata jeli. Lalu tangisannya terpecah. tapi senyap, tapi diam. Para bajing, sekawanan rusa asik bercinta-cinta di pojok bumi. Ia menatap telaga. berkata-kata. Aku menyesal menjadi kunang-kunang.

Aku memilih takdirku, aku bukan kunang-kunang, bukan.
Aku leopod dan antelop, aku betina.

Kunang-kunang malang menangis di ujung malam..berkata-kata bahwa bumi tak pernah memberi secercah tempat teduh untukknya, dan bahkan peluh mengucur, menderas-deras dari dadanya.
Bumi yang telah melahirkan langit.

*****

Untukkmu tuan

Lelaki itu hanya tersenyum,tak berkata-kata. Ahhh,lalu aku memikirkannya hari ini.Aku menangis di unjung ranjang mengingat dua bola mata dan senyum simpul yang ia miliki.Mata elang,bibirku bibirnya seperti dahulu,seperti semula.Tanpa kata-kata.Aku sayang kau lelaki ku.Hingga sampai Tuhan menampar bumi dengan selaksa meteorit.,”Sang Ha”

Tuan, tuan akan baik-baik saja.Aku akan berada disisi tuan.Memijit kaki tuan.Atau bila perlu aku akan memotong sekerat hati merahku buat mengganti hatimu dan kucelupkan darah ku agar kau tak mati esok sore.Tuan, tuan akan baik-baik saja…

Aku masih melihat tawa mu senja kemarin tuan.Kau memakai dasi merah tua.Sepadan dengan baju yang kau beli di tanah abang.

Tuan, aku masih menelurur belai kumismu yang memekat hitam.Beradu bibirmu yang bau kretek dan segelas kopi hitam. Bau lelaki.

Atau rambut gelombang dan riaka-riak tak sempurna yang kau miliki.Tuan, tuan harus tetap tersenyum,.Aku tau tuan akan tersenyum

Tuan jangan menangis.Tetapi sebelum itu, aku minta maaf pada tuan.Vas bunga yang tuan beli dari manchuria telah kupecahkan dan anggrek di belakang rumah aku cabut, ku buang di got penuh lumpuh, lumpur.

Lalu kenapa kau tersenyum? Aiihh, tak perlu kau tersenyum tuan. Ku tahu di lubuk jiwamu kau menangis semalam. Istrimu telah menjaja cinta di pojok-pojok malam,.Tak hiraukan kau kedinginan. Ia pergi kerumah panggung milik saudagar yang adalah mertuamu. kakek janinmu.

Aahhh..Kau masih tersenyum juga malam ini…Memeluk langit kamarmu yang berlumut dan pojokan tak tertata..Kau sendiri dengan bayang-banyang.Pada malam yang menggulita dan pada siang yang memekak kerontang kau berpeluh. sendiri. sepi senyap.

Tuan….Kau sendiri lagi malam ini. Di ujung ranjang. Kau takkan bercinta hingga senja. Kau sendiri.

Tuan…aku menangis…Hingga tuan bercerita tentang lelaki-lelaki. Tentang awan yang tak pernah menyentuh bumi. Beranjak berlalu menjauh. hilang tertelan sejumput ilalang savana.

Lalu tuan, aku juga menagis bahwa kau memang hanya manusia.Bahwa kau pun lelaki, membuncah amarah pada rusuk-rusuk. pada benih, pada sulbi, pada cinta.

Aku telah menghapus tuan. Selaksa cerita tentang manyar hitam yang terbang rendah tersambar camar pekat.Camar-camar jalang

Tuan…., Bintang meredup dan gemintang mulai sunyi. LIlin-lilin mulai memadam. Sang angin meniup-niup penuh oak, siksa tertampah pelangi manusia.

Tuan jangan menangis malam ini. Kutahu warna matamu. Kau menagis meski bibirmu tertawa. penuh riak-riak. Mkadengar saja cerita aku hari ini.,Tuanku, majikan-majikan manusia.

Aku telah berjalan selusuri pantai-pantai. Ku temukan bau nyawamu mengintai, dan suara serakmu yang ku kenali, sedari dulu, sejak semula kau tercipta

Lalu kini kutemukan sepasang octopus berwarna merah, kerlap.

Lalu sebuah bola-bola. Bocah kecil telanjang berlari-lari di pantai. bocah-bocah lucu. lucu. Lalu bau pantai ini endap-endap. berlari-lari menuju surga. Tapi ia berteriak padaku. Kau tak usah bermimpi tentang surga. AKu tak akan pernah ke surga.

Lalu pantai, lalu karang. bereut setetes buih. Pada nyanyi-nyanyi. pada buaih yang terkesibak selepas bercinta, bersama sang Octopus, bersama sang ombak

Tuan jangan menangis,😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: